BUDAYA SEBAGAI BAROMETER PERADABAN


Study Atas Peran Budaya dalam Mengimbangi Budaya Global
Oleh: Ach Hisyam

A.    Pendahuluan
            Kebudayaan merupakan produk dari manusia, dilahirkan dari proses historis. kebutuhan akan pola hidup dalam masyarakat dan persinggungan-persinggungan dalam proses historis membuat kebudayaan (staqofah) sebagai akar dari segala sistem-sistem yang ada dalam kehidupan. Kebutuhan akan pola hidup mencangkup model mempertahankan kehidupan, model dalam mempererat jalinan sosial. kemudiayan persingguangan-persinggungan dengan peradaban (hadhoroh), dalam hal ini sering mempengaruhi proses transformasi kebudayaan menuju pada bentuknnya yang sempurna.
            Dalam beberapa kesempatan, Prof Dr KH Aqiel Sirojd selalu mengingatkan bahwa perpaduan antara Hadhoroh (peradaban) dan Staqofah (kebudayaan) akan menghasilkan masarakat yang Tamaddun atau masyarakat madani. Masyarakat madani selalu digambarkan dengan masyarakat yang hidup dalam harkat kemanusiaan yang tinggi dan stabilitas ekonomi dan politik. Masyarakat tersebut dapat dibentuk dengan dua perpaduan yang keduanya saling melengkapi satu sama lain, keduanya saling mengisi kekosongan satu sama lain, dan yang lebih penting keduanya dapat dinikahkan dan melahirkan keturunan yang secara genetik tidak lepas dari karakter orangtuanya (dalam hal ini adalah karakter Hadhoroh dan Staqofah).
B.     Budaya dan Peradaban
            Kebudayaan merupakan salah satu konsep yang luas karena tentangnya terkumpul 179 devinisi yang berbeda, yang kemudian digolong-golongkan berdasarkan asas pemikirannya. Pandangan A. L. Kroeber dan C. Kluckhohn ini tertuang dalam karya mereka Culture,a critical Review of concepts and devinition (1952) kebudayaan sebagai suatu konsep luas akan menjadi lebih jelas bila dirinci kedalam wujud kebudayaan dan isi kebudayaan. Dilihat dari dimensi wujud, kebudayaan terbentuk atas tiga wujud, yakni: (1) wujud suatu kompleks gagasan-gagasan, konsep-konsep dan pikiran manusia: (2) wujud sebagai suatu komplek aktifitas, dan (3) wujud sebagai benda. Wujud pertama disebut sebagai sistem budaya, yang kedua disebut sistem sosial, dan ketiga sebagai kebudayaan fisik. Ditinjau dari matra isi kebudayaan sering ditonjolkan konsep kebudayaan universal yang dikembangkan oleh B. Malivowski serta seperti beberapa pakar lain seperti G. P. Murdock dsn C. Kluckohn. Yang dimaksud dengan kebudayaan universal adalah unsur-unsur yang terdapat dalam semua kebudayaan umat manusia di seluruh dunia. Unsur-unsur tersebut terdiri atas (1) bahasa (2) sistem teknologi (3) sistem mata pencarian hidup atau ekonomi (4) organisasi sosial (5) sistem pengetahuan (6) kesenian (7) religi[1].
            Budaya dilihat baik dari wujudnya itu sendiri, ataupun dilahat dari matranya tidak lepas dari budaya adalah sesuatu yang dihasilkan dari aktifitas manusia, dikembangkan oleh manusia dan dirasakan oleh manusia. Peran manusia dalam hal ini adalah sepagai produktor sebuah kebuadayaan. Sehingga Kuntjoroningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai cipta, rasa, dan karsa manusia. Dari ketiga katagori yang diberikan oleh Kuntjoroningrat, bahwa kebudayaan merupakan jiwa dari manusia, jiwa yang selalu mengalami perbebadan corak antara satu sama lain bahkan mengalami sebuah fase kemajuan. Namun kita banyak yang tidak sadar akan essensi dari kebudayaan. Essensi yang semestinya menjadi bomereng dalam merespon kebudayaan dalam pertarungan global.
            Kebudayaan bersifat mantap, tapi juga berubah. Ia stabil tapi juga dinamis. Tiap kebudayaan pasti dalam keadaan berubah dalam kemantapannya, karena perubahan alam pikiran dan perasaan. Yang digerakkan oleh perubahan pengalaman. Yang beda dari kebudayaan adalah tempo dari perubahannya. Kebudayaan bersahaja lamban perubahannya, sedangkan kebudayaan modern cepat[2].
            Era modern ditandai dengan era komunikasi dan informasi yang semakin tak terkontrol, kita asik menerima informasi dan wajah-wajah manusia dunia hanya melalui media. Seorang anak yang langsung dengan mudah mendapatkan inspirasi dari sebuah informasi dibandingkan dengan keluarga dan masyarakat sekitarnya, dalam era yang baru ini anak dengan mudah mengetahui berbagai macam corak komunikasasi hanya dari sebuah media informasi (dalam hal ini, media merupakan hasil peradaban Barat), bahkan anak yang baru tumbuh dari belaian orang tuanya langsung dapat menjadi masyarakat global yang ditandai dengan gaya hidupnya (way of life). Hal ini tidak lepas dari pengaruh media yang menampilkan era komunikasi masyarakat.
            Selain istilah kultur (culture) dalam artian kebudayaan dikenal juga istilah sivilisasi (civilitation) kebudayaan seringkali dicampuradukan atau dianggap memiliki arti dan pengertian yang sama. Untuk memudahkan pemahaman, keduanya diartika sebagai berikut.  Culture = kebudayaan, Civilitation = peradaban. Kebudayaan merupakan suatu sikap batin, sifat dari jiwa manusia, yaitu usaha-usaha untuk mempertahankan hakekat dan kebebasanya sebagai makhluk yang membuat hidup ini lebih indah dan mulia. Sementara itu, peradaban merupakan suatu aktifitas lahir yang biasanya digunakan untuk menyebut bagia-bagian dan unsur-unsur yang halus, maju dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun, pergaulan, kepandayan menulis, organisasi kenegaraan, dan sebagainnya (Koentjaraningrat, 1979: 1989-194). Istilah peradaban juga sering untuk menyebut kebudayaan yang memiliki sistem teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang luas sekali. Walaupun, keduannya sangat erat hubungannya, namun pengertiannya tetap berbeda. Orang yang beradab belum tentu berbudaya[3].
            Peradaban Barat dijadikan wahana dalam memperluas wilayah kebudayaannya sebagai revolusi kebudayaan. Dalam hal ini pepatah yang mengatakan buah tidak akan jauh dari pohon atau anak tidak akan lepas dari orangtuanya ternyata tidak dapat kita temukan dalam proses anak memproduksi kebudayaan. Karena buah yang jatuh dibawah terbang oleh burung sehingga buah tersebut yang terjadi adalah  jauh dari pohonnya. Begitu juga dengan fenomena madern, karakter orang tua hilang tidak diwarisi oleh anaknya bagaikan buah yang hilang jauh dicuri oleh binatang. Begituhalnya juga peran orang tua dicuri oleh media dan anak dalam perkembanganya dibawah jauh dari situasi karakter keluarga menuju wilayah jauh di seberang dunia, yaitu wilayah masyarakat Global. Hal demikian tidak lepas dari peran media.
            Media dewasa ini, sudah sangat akrab dengan keluarga, khususnya media elektronik. Sepanjang hari, kecuali untuk sekolah, anak-anak berada didepan televisi, menyaksikan berbagai acara siarannya. Biasa dibayangkan bila anak-anak itu, seluruh waktunya dihabiskan untuk menonton acara-acara hiburan. Kalaupun ada program pendidikan, acuan nilai dan kepentingannya sudah berbeda dengan konteks pendidikan kita. Tragisnya dewasa ini, televisi dan media lainnya, kata Halloran telah menjadi guru bagi jutaan anak-anak. Dengan demikian media massa telah menjadi agen sosiolasi yang ampuh bagi perkembangan generasi berikutnnya[4].
            Sejarah media adalah sejarah pesan dalam kurun waktu dan ruang tertentu. Menurut Marshall McLuhan dari “ center for technology and Culture Universitas Toronto, Kanada lewat karyannya Undestanding Media: the extensions of man (1964), media adalah pesan  (the medium is the massage). Dalam arti media diartikan lebih dari sebuah wahana dimana pesan ditransmisikan. Media adalah pesan itu sendiri. Kalau semua sifat media adalah isi dari media itu sendiri, sedang isi dari media adalah sebuah informasi yang telah diwujudkan dalam bahasa mengenai realitas, dan pembicaraan merupakan aktualisasi dari proses pemikiran, maka media adalah perluasan dari gagasan dan ide-ide, dan pikiran dari kenyataan sosial. Tidaklah salah jika dikatakan bahwa Media is  the extensions of man[5].
            Media komunikasi sebagai hasil dari peradaban Barat secara tidak langsung apa yang tergambarkan lewat media adalah kebudayaan Barat yang berusaha menghegemoni. Individualisme merupakan salah satu budaya yang berusaha dan sudah masuk dalam lini-lini kebudayaan Indonesia. Indonesia jauh dari wajah ramahnnya. Namun sejarah perubahan kebudayaan tidak memandang peradaban sebagai alat dalam menghegemoni budaya, melainkan dipandang sebagai hasil dari sebuah kebudayaan semata. Masyarakat Arab masih tetap sebagai masyarakat qobilah bukan masyarakat kesukuan (Syu’ubiyah) meskipun melalui perdagangan Penduduk Arab banyak bersinggungan dengan peradaban Romawi dan Persia.
            Perkembangannya, kebudayaan Indonesia terus mengalami penyusutan yang endingnya adalah lose of identity. Hal demikian sudah kita rasakan sampai detik ini, dimana Masyarakat Indonesia pada umumnya sudah banyak yang meninggalkan bahasa daerah bahkan bahasa Indonesia yang menjadi lambang intergrasi nasional. Kita sering melihat diujung jalan atau iklan-iklan yang berjejeran dijalan sudah malu untuk menggunakan bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah. Hal ini tidak lepas dari pertarungan kebudayaan sehingga yang menjadi juara biasa kita kenal dengan hegemoni budaya. Hal demikian tidak lepas dari peran media sebagai perluasan dari gagasan, ide-ide dan pemikiran dari kenyataan sosial. Kenyataan sosial yang ditampilkan adalah kenyataan yang terjadi dalam kilauan kehidupan global bukan wajah Indonesia.
            Permasalahannya adalah bukan berarti dalam konteks kebudayaan Indonesia tidak menerima perubahan, karena di manapun keberadaannya perubahan tidak dapat ditolak. Melainkan permasalahannya adalah kenapa kebudayaan kita dengan mudahnya digantikan dengan budaya global (revolusi budaya), yang baru dikenalkan setelah revolusi Industri. Perubahan dalam sebuah masyarakat merupak sebuah keharusan, namun bagaimana pola perubahan tersebut? Apakah perubahan yang dikehendaki seperti yang terjadi dewasa ini?
C.    Kembali Pada Khittoh Kebudayaan
Media menggambarkan adanya proses dalam mempengaruhi masyarakat baik dalam pembentukan nalar maupun karakter nalar yang ada. Penggunaan kata “nalar” sebagai pengalihan dari pemikiran sebagai perangkat berpikir (al-fikr bi washfihi ‘adalah li al-fikr)[6]. Nalar dari setiap masyarakat memiliki perbedaan masing-masing. Perbedaan tersebut dihasilkan oleh proses sejarah masyarakat tertentu. Lalande berusaha memberi pemahaman berkaitan dengan nalar sebagai ciri dari masyarakat tertentu dan nalar sebagai kenyataan yang tidak dapat dihindari oleh manusia. Lalande membedakan antara nalar pembentuk atau aktif (al-aqlu al-mukawwin au fa’il dalam bahasa prancisnnya La Raison Constituante) dengan nalar terbentuk atau dominan (Al-Aqlu Al-Mukawwan au sa’id, dalam bahasa prancisnnya La Raison Constituee). Yang pertama adalah aktifitas kognitif yang dilakukan oleh pemikiran ketika mengkaji dan menelaah serta membentuk konsep dan merumuskan prinsip-prinsip dasar. Dengan kata lain, nalar aktif adalah naluri yang dengannya manusia mampu menarik asas-asas umum dan niscaya, berdasarkan pemahamannya terhadap hubungan antara segala sesuatu. Di seluruh manusia nalar ini sama. Yang kedua, nalar dominan, adalah sejumlah asas dan kaidah yang kita jadikan pegangan dalam berargumentasi (istidlal). Nalar ini berbeda antara satu periode dengan periode yang lainnya, bahkan berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya. Menurut Lalande nalar ini berisifat terbentuk  dan berubah sekalipun dalam batas-batas tertentu. Ia eksis dalam periode terentu dan bersifat temporal[7].
            Dalam prakteknya Lalande, menggambarkan bentuk nalar pertama sebagai keharusan yang dimiliki manusia untuk dibedakan dengan manusia, sedangkan yang kedua adalah bentuk nalar yang dibentuk dari pertarungan pengaruh pemikiran dalam era-era tertentu. Perjalanan sejarah membuktikan bahwa hegemoni budaya hanya dapat dimiliki oleh negara yang memiliki poweritas yang tinggi seperti kebudayaan Romawi dan kebudayaan Persia. Dimana poweritas sebuah negara tidak dapat dipisahkan dengan peradaban yang berkembang searah dengan perkembangan budaya itu sendiri. Kebudayaan dalam hal ini tidak keluar dari relnya, dan masih menempati posisinya sebagai hasil dari produksi manusia.
            Bagian kebudayaan dari segi wujudnya, diantaranya adalah segai wujud suatu kompleks gagasan-gagasan, konsep-konsep dan pikiran manusia. Kita akan menemukan konsep-konsep sederhana berkaitan dengan pasang susutnya gagasan-gagasan dan pemikiran manusia. Perdagangan bangsa Arab sebelum Islam menggambarkan bahwa orang-orang arab mengambil manfaat dari bangsa Romawi dan Persi melalui perdagangan. Penduduk Arab dalam hal ini banyak mengadopsi sistem sastra yang berkembang pada masanya dan sistem pemerintahan Romawi dan Persi. Dan tidak hanya itu penduduk Arab Yaman dan Hijaz menggunakan kesempatan kunjungan perdagangannya dengan mempelajari konsep-konsep negara dan Ilmu-ilmunya.
            Peradaban suatu negara terkadang menjadikan kita memiliki perasaan untuk dapat meniru atau mengadopsi apa yang menjadi kebanggaanya. Contoh selain dari peradaban Romawi dan Persia, adalah perkembangan kebudayaan maritim Nusantara. Dalam catatan sejarah sering dijumpai adanya pengaruh-pengaruh bangsa-bangsa lain, India, China, Arab, Persia, dan Eropa. Namun fenomena tersebut tidak menjadikan wajah Indonesia selalu berubah sesuai dengan persinggungan dengan bangsa lain, persinggungan tersebud tijadikan sebagai alat transformasi kebudayaan menuju lebih baik.
            Kesuksesan Islam dalam catatan sejarah perkembangannya adalah kesuksesan dalam mengolah peradaban-peradaban yang ada disekelilingnya. Peradaban yang dihasilkan dari persinggungan-persinggungan dengan peradaban Romawi dan Persia setelah diterimanya Islam oleh penduduk yang berbasis peradaban Romawi maupun Pesia, kebudayaan Arab turut menjiwai pembentukan peradaban yang baru dan mengshasilkan masyarakat tamaddun atau masyarakat madani. Ini adalah proses perkawinan antara peradaban dan kebudayaan. Dalam hal ini Agama dipandang sebagi kebudayaan sistem tingkah laku. Kesuksesan tersebut dalam kacamata sosiologi adalah kebudayaan menjiwai perdaban dan memberikan nuansa baru, sedangkan dalam perspektif agama justru agamalah yang menjiwai peradaban. Sebenarnya dalam hal ini tidak ada permasahan, karena seperti yang disebutkan di atas bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan.
            Begituhalnya perjalanan kebudayaan Indonesia, dari sistem religi animisme dan dinamisme yang berkembang, persinggungan dengan peradaban Hindu-Budha tidak diterima dengan apa adanya, seperti sistem keagamaan, sistem pemerintahan, sistem arsitekturnya maupun sistem sosialnya. Begituhalnnya dengan persinggungan dengan peradaban China melalui perdagangan, nenek moyang kita tidak langsung menerima dengan apa adannya. Belum lagi persinggungan-persinggungan dengan peradaban yang lain dalam era perdagangan maritim. Kesemuannya menghasilkan sesuatu yang berbeda.
            Dalam bidang agama pengaruh jaman megalitthicum di Bali masih merasa kuat. Hal ini terlihat pada bangunan-bangunan pura yang mirip dengan bangunan punden berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, batu-batu besar dan lain-lainnya yang berasal dari jaman sebelum masuknya agama Hindu, tetap tercermin pula di dalam kehidupan masyarat setelah maasuknya agama Hindu. Bahkan sampai sekarang benda-benda dari jaman budaya meghaliticum masih tersimpan dan dipuja-puja bersam-sam dengan patung-patung agama Siwa dan Budha[8]. Proses tersebut menandakan adanya proses kreatifitas dalam masyarakat Indonesia dalam menerima peradaban-peradaban dunia.
            Nenek moyang kita dalam hal ini memegang apa yang disebut oleh Lalande sebagai nalar dominan (Al Aqlu al-Mukawwan) sistem nalar yang dihasilkan oleh perjalan sejarah interaksi individu dalam kelompok, tetap dipertahannkan dalam menciptakan sesuatu yang baru. Perubahan yang dijiwai oleh kearifan lokal, nalar dominan yang melekat dan menjiwai setiyap perjalanan kebudayaan Indonesia, menjadi corak kekhasan yang membedakan dengan kebudayaan disekitarnya.
Senada dengan apa yang mejadi pijikan oleh Zidi Gazalba dalam memahami peruaban budaya sebagai perubahan yang bersifat evolusi[9]. Dengan pemahaman, perubahan kebudayaan itu pasti selama ada persinggungan dengan peradaban yang lainnya, seperti gambaran diatas, kontak antara budaya sulit menghasilkan perubahan tanpa adanya pengenalan peradabannya (unsur-unsur budaya yang halus, maju dan indah) dengan catatan kebudayaan harus menjiwai peradaban. Dan inilah yang ingin disampaikan oleh kang Said berkaitan Kebudayaan + peradaban = masyarakat Tamaddun atau Madani.
D.    Kesimpulan
Peradaban merupakan bentuk budaya halus, diantaranya seni, arsitek bangunan, ilmu pengetahuan, dan sistem pemerintahan. Media komunikasi merupakan peradaban Barat. Dalam media, tersimpan pemikiran yang hendak disampaikan. Peradaban merupakan media dalam mengekspesikan kebudayaan, namun media komunikasi sebagai bentuk peradaban Barat, media dari sebuah kebudayaan, menyimpan pesan pemikiran yang disampaikan di dalamnya. Media komunikasi sebagai peradaban barat menyimpan pesan kebudayaan yang hendak disampaikan.
Pesan media komunikasi, baik media elektronik maupun cetak, selalu membawa kandungan-kandungan kebudayaan Barat. Media elektronik dalam proses ini sangat dominan dan sangat memiliki peran yang signifikan. Media elektronik mempengaruhi lewat alam bawah sadar, seseorang lupa akan kewajibannya ketika dihadapkan dengan media elektronik. Pengaruh dalam perkembangan kebudayaan nasional sangat signifikan sehingga pengaruh dalam kebudayaan terkesan sebagai sebuah revolusi kebudayaan. Hal ini keluar dari konsep dasar perubahan kebudayaan, yaitu evolusi.
Kreatifitas dalam mengolah kebudayaan adalah sifat dari masyarakat nusantara. Kreatifitas tersebut, hampir hilang ketika dihadapkan dengan peradaban hasil kebudayaan Barat. Sehingga dalam prosesnya kebudayaan nusantara hampir punah seiring dengan berkurangnya kreatifitas masyarakatnnya. Dalam hal ini patut kirannya, kegiyatan musik Gamelan yang disesuaikan dengan trend musik tanah air merupakan salah satu bentuk kreatifitas masyarakat Indonesia yang harus didukung dan mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat luas dan para peminat budaya. Hal demikian, merupakan aktifitas kebudayaan dalam menjiwai peradaban yang hadir di depan mata. Begituhalnya dengan proses persinggungan-persinggungan dalam bentuk lainnya.

Daftar Pustaka
Al-Jabiri, Muhammad Abed, Formasi Nalar Arab Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius, Yogyakarta: IRCISoD, 2003.
Daeng, Hans J, Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan Hidup Tinjaun Antropologo, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offist, 2000.
Gazalba, Sidi, Masyarakat Islam Pengantar Sosiologi dan Sosiagrafi, Jakarta: Bulan Bintang, 1967.
Ibrohim, Idi Subandy, dan Dedy Djamaluddin Malik, Hegomoni Budaya, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1997.
Karim, M Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, cet.2, 2009.
Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II, Jakarta: Balai Pustaka, cet.7, 1992.


[1] Hans J. Daeng, Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan Hidup Tinjaun Antropologo, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offist, 2000), hlm 66.
[2]Sidi Gazalba, Masyarakat Islam Pengantar Sosiologi dan Sosiagrafi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1967), hlm  43.
[3] M Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, cet. 2 (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009), hlm. 25.
[4] Idi Subandy Ibrohim, dan Dedy Djamaluddin Malik, Hegomoni Budaya, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1997), hlm. 16.
[5] Ibid., hlm. 23
[6] Muhammad Abed Al Jabiri, Formasi Nalar Arab Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius, (Yogyakarta: IRCISoD, 2003), hlm. 32.
[7] Ibid., hlm. 32
[8]  Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II, cet 7, (Jakarta: Balai Pustaka, 1992), hlm. 338.
[9]  Zidi Gazalba, Masyarakat Islam Pengantar Sosiologi dan Sosiografi, hlm. 86.

MELACAK DEGRADASI POLITIK RAJA-RAJA ISLAM JAWA ABAD XVII

Oleh: M. Romandhon MK[1]

Abtraksi
            Fase baru dalam sejarah kerajaan Islam di Jawa adalah tatkala Keraton Pajang dipindah ke Mataram. Dari situlah riwayat kerajaan Mataram (1586) tumbuh dan nantinya memenuhi sejarah Indonesia jaman madya. Semenjak berdirinya, Mataram sering mendapat banyak tentangan, lebih-lebih lagi ketika ia menunjukkan politik ekspansinya. Bentrokan pertama terjadi tahun 1586, yaitu dengan Surabaya. Dengan perantara Sunan Giri pertumpahdarahan dapat dicegah. Dalam insiden itu, Surabaya tidak ditundukkan, tetapi bersedia mengakui kekuasaan atas Senapati sebagai penguasa tanah Jawa. Dari sekelumit tentang politik ekspansi Mataram itulah awal mulai pergolakan politik berskala nasional tumbuh.

A.     Pendahuluan
Berbicara tentang kerajaan Islam Jawa pada abad ke-17 ada hal yang sangat menarik untuk ditelusuri dan dikaji. Pasalnya abad ke-17 adalah abad penentu terhadap maju-mundurkan kerajaan Islam Jawa. Kaitanya dengan hal itu, bahwa pada abad tersebut telah terjadi gelombang degrasasi politik secara besar-besaran.
Diskursus tentang pudarnya politik raja-raja Islam Jawa setidaknya merupakan fenomena tersendiri di tengah keadaan perekonomian yang sesungguhnya sedang mengalami perkembangan pesat. Ini artinya, bagaimana mungkin, ketika suatu wilayah yang mana para pemimpinnya (raja) dalam pergulatan politiknya sedang amburadul, justru di sektor ekonomi sedang mengalami kemajuan yang subur.
Fenomena inilah yang mendasari mengapa saat-saat semacam itu, justru politik para raja-raja Islam mandul. Pudarnya politik raja-raja Islam Jawa sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari situasi kerajaan Mataram. Mataram mencapai puncak kejayaannya ketika berada di bawah nahkoda raja ke-3, yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645). Melalui pemerintahan Raja Sultan Agung Hanyokrokusumo, Mataram mendominasi seluruh tanah Jawa, kecuali Banten dan Batavia. Bukan sekedar raja, Sultan Agung juga merupakan seorang pejuang hebat di Jawa, yang dengan gigih melawan kolonialisme Belanda.
Pasca Sultan Agung mangkat, Kerajaan Mataram selanjutnya dijabat Sultan Amangkurat I (1645-1677). Pada masa pemerintahannya, masa kejayaan Mataram pun lambat laun mulai memudar. Raja-raja berikutnya juga tidak mampu membawa Mataram kembali ke masa jayanya. Daerah-daerah yang selama ini berada di bawah kekuasaan Mataram, satu per satu berusaha memisahkan diri. Akhirnya, setelah dikacaukan oleh berbagai kudeta (pemberontakan), seperti Pangeran Trunojoyo dari Madura yang mendirikan keratonnya di Kediri (1677-1680) dan Untung Surapati yang kemudian berkeraton di Pasuruan (1686-1703), Mataram pun terjerumus dalam tiga perang suksesi, yang berakhir dengan Perjanjian Giyanti (1755) dan Perjanjian Salatiga (1757)[2]. Insiden yang kemudian memunculkan tiga perang suksesi tersebut merupakan salah satu cikal bakal dari kekeroposan baik intern maupun ekstern Kerajaan Mataram Islam.

B.     Benih Kemelut di Tingkat Elite Politik
Runtuhnya kerajaan Majapahit setidaknya telah menjadi penanda atas berakhirnya kerajaan Hindu di Jawa. Bersamaan dengan itu pula telah lahir benih-benih kerajaan baru yaitu kerajaan Islam. Hal ini ditandai dengan munculnya beberapa kerajaan Islam seperti, Pajang, Mataram dan  Demak. Abad 17 adalah abad yang boleh dikatakan sebagai abad yang penuh dengan kemajuan dan perkembangan. Khususnya kemajuan pesat di kesultanan-kesultanan (abad ke-16-abad ke-18)[3].
Namun, yang susah untuk dimengerti, mengapa justru ketika pada abad 17, pamor politik para raja-raja Islam Jawa mengalami kemrosotan bahkan pemudaran. Apa sesungguhnya yang melatar belakangi pudarnya politik raja-raja Jawa abad ke-17. Bukankah ini sangat ironis. Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan Kerajaan Konsentris, kerajaan Jawa seperti Mataram pada akhir abad 16 sampai awal abad ke-19 sedang memasuki masa-masa renaisans[4]. Masa-masa renaisans ini dikatakan Denys Lombard yakni dengan lahirnya kembali sistem kerajaan Majapahit pada kerajaan Mataram Islam.
Apabila logika perubahan ekonomi dan sosial yang telah menjatuhkan dan akhirnya melenyapkan sistem kerajaan pada awal abad-16 masih dapat diterima akal. Namun agaknya lebih sangat sulit dimengerti mengapa sistem itu dapat muncul kembali kurang dari seabad kemudian. Akantetapi, memang demikianlah kenyataan politik disekitar tahun 1586. Keluarga raja-raja Mataram memulihkan monarki demi kepentingannya sendiri, dan menyatukan kembali wilayah Jawa di bawah kekuasaannya[5].
Meski disebut-sebut sebagai masa-masa renaisans, toh kenyataannya pergulatan politik di tingkat para elite raja justru mengalami degradasi yang sangat signifikan. Rakyat-rakyat kecil secara berangsur-angsur telah apatis terhadap politik para raja-raja Jawa saat itu. Apa sesungguhnya yang menyebabkan politik ditingkat raja-raja itu melapuk? Berikut adalah beberapa indikasi yang melatar belakangi fenomena pudarnya politik raja-raja Jawa abad ke-17;

1). Kemelut Konflik Berkepanjangan Antar Raja-Raja Lokal.
Perlu diketahui bahwa penguasa penting pertama adalah Aria Penangsang dari Jipang, di daerah Bengawan Solo bagian tengah, tepat diutara negeri Wengker yang telah berkembang pada abad ke-14[6]. Arya Penangsang dikenal sebagai yang mahir dalam bidang pembunuhan politik. Terbukti ia mampu menyingkirkan dua rival terberatnya, yakni penguasa Jepara dan Sultan Demak sendiri, yaitu Prawata (kira-kira 1568).
Namun gerakan Arya Penangsang tersebut pada akhirnya mampu dipatahkan oleh Jaka Tingkir, dan ia pun terbunuh secara mengenaskan melalui pertarungan satu lawan satu. Saat itulah Jaka Tingkir kemudian mendapat gelar Adiwijaya, sekaligus menjadi penguasa Negeri Pajang. Pengesahan Joko Tingkir sebagai raja pertama Pajang disahkan oleh Sunan Giri dan langsung mendapatkan pengakuan dari adipati-adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur[7]. Berangkat dari itulah benih-benih pertikaian di raja-raja jawa Islam mulai menampakkan geliatnya. Setelah Jaka Tingkir meninggal dunia pada tahun 1587, para penggantinya tidak dapat mempertahankan pemerintahannya. Ahli waris Sultan Pajang ialah tiga orang putra menantu; yaitu raja di Tuban, raja di Demak, dan raja di Araos Baya, di samping putranya sendiri, juga Pangeran Benawa[8].
Setidaknya hampir dua puluh tahun memimpin, akhirnya Jaka Tingkiir digeser oleh salah seorang vasalnya dari barat, Senapati dari Mataram (1575-1601). Senapati ini adalah anak Ki Gede Pemanahan. Seluk-beluk serangan-serangan militer yang dilancarkan berturut-turut oleh oleh Senapati  dan anaknya (Seda ing Krapyak, 1601-1613), serta cucunya (Sultan Agung, 16-13-1645) untuk menyatukan negeri-negeri Jawa dan memperkukuh kekuasaan mereka atas kota-kota pesisir seperti Demak, Pati, Lasem, Gresik, Giri, dan Surabaya[9].
2). Benih Keretakan dalam mempertahankan wilayah taklukan.
Konsep tatanegara Kerajaan Majapahit dengan menyatukan kerajaan di Jawa yang kemudian menjadi center state, telah menginspirasi Mataram untuk mengulangnya kembali. Dan keinginan itu sedikit banyak telah terwujud. Untuk mempertahankan kekuasan mereka atas wilayah yang telah mereka taklukan, raja-raja Mataram memakai pelbagai cara yang beberapa diantaranya agaknya dipinjam dari Majapahit. Salah satunya dengan mewajibkan penguasa-penguasa daerah, terutama yang kuat,  untuk tinggal di keraton beberapa bulan dalam setahun. Kalau penguasa daerah itu pulang, ia diwajibkan untuk meninggalkan salah satu anggota keluarga dekatnya sebagai sandera di keraton[10].
Namun kelihatannya politik penguasa pusat semacam itu ternyata lambat laun tidak mendapatkan respon yang positif dari para penguasa-penguasa daerah. Pasalnya dengan cara seperti itu seolah keberadaan para penguasa daerah bagaikan terpasung. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu penguasa lokal untuk membebaskan belenggu tersebut. Pada perkembangannya, mereka kemudian dimanfaatkan sebagai algojo resmi atau untuk pembunuhan dan perbuatan tercela lainnya. Contoh Mataram maupun Aceh menunjukkan kehendak untuk untuk mendirikan sekelompok kaki tangan raja. Dalam kasus Jawa terdapat pula keyakinan bahwa kelompok tersebut harus dikendalikan secara ketat agar dapat mengawasi wilayah yang luas[11].
3). Gagal Menyelamatkan Kerajaan yang Utuh.
Setelah berbagai upaya untuk mempertahankan keutuhan kerajaan Jawa yang besar dan satu, mengalami berbagai kendala. Nampaknya usaha untuk mendirikan sebuah kerajaan yang luas, terorganisir rapi dan bersatu tidak bertahan lama sesudah pemerintahan Sultan Agung dan Amangkurat I. Tak bisa dipungkiri, bahwa kepemimpinan Sultan Agung lebih dikenal dengan politik ekspansinya sehingga dia bukan Jawa saja yang ingin dikuasainya, melainkan wilayah Nusantara[12].
Akbibatnya pasca pemerintah Sultan Agung dan Amangkurat I, pada 1675 kerusuhan pecah. Setelah kekisruhan itu, akhirnya raja-raja Mataram gagal memulihkan kekuasaannya atas keseluruhan tanah Jawa[13]. Ketika pada tahun 1755 perdamaian kembali tercapai, namun kerajaan sudah pecah untuk seterusnya. Priangan yang merupakan inti tanah Pasundan, segera lepas dari pengawasan para sunan. Pada tahun 1667, Citarum ditetapkan sebagai perbatasan. Pada tahun 1705 perbatasan itu dimundurkan sampai ke Cirebon[14]. Dengan demikian dapat dipastikan jika Jawa Barat sudah berada di luar sistem kerajaan Jawa dan menjadi semacam ”tanah tak bertuan“.
4). Munculnya pemberontakan wilayah-wilayah lokal
Bagai telur di ujung tanduk, situasi pemerintah di Mataram secara de facto telah diambang kehancuran. Satu persatu lepas dari kesatuan kerajaan Mataram. Bahkan di Jawa Tengah sendiri, para penguasa lokal kurang rela mengakui kedaulatan Mataram. Pada akhir pemerintahan Amangkurat I sudah ada yang mencoba memberontak seperti terlihat pada peristiwa yang dinamakan “persekongkolan Kajoran“ (1672-1677)[15]. Tidak lama berselang kemudian pangeran-pangeran pemilik lungguh dan bahkan anggota keluarga sendiri menentang kekuasaannya.
Alhasil, wilayah inti kesunanan abad ke-17 dibagi menjadi tiga “kerajaan“ yang terpisah-pisah. Sementara itu, keadaan di wilayah Jawa Timur situasinya jauh lebih kacau lagi. Daerah bekas jantung Majapahit itu terus menerus memberontak dan tanpa disadari telah menjelma basis berbagai pembangkang. Dan pada akhirnya meletuslah peristiwa yang terkenal dalam sejarah tradisional sebagai “tiga Perang Suksesi“[16]. Perang Suksesi pertama, ketika Amangkurat II meninggal dunia, dan menyangkut anaknya, Amangkurat III melawan saudaranya Pangeran Puger, yang bergelar Paku Buwana I.
5). Adanya ikut Campur Pihak Kompeni
Pudarnya politik para Raja Jawa Islam semakin nampak sekali, ketika pihak kompeni mulai ikut campur di dalam kekuasaan kerajaan. Di luar dugaan kejadian-kejadian ini dengan sangat cepat sekali menyebabkan keruntuhan Mataram karena pemberontakan di dalam negeri dan kekerasan dari luar negeri. Semenmtara itu, kompeni yang semula merupakan lawan kemudian menjadi pelindung dinasti , sehingga pada akhir kisah ini sang putra raja yang terusir dari Keraton, karena putus asa, lalu merangkul Batavia[17].
Ketika Paku Buwana I meninggal, salah seorang putranya, Mangkunegara, naik takhta menggantikan Paku Buwana I dengan dukungan Kompeni yang sudah mempunyai garmisun di Kartasura[18]. Hal inilah yang kemudian menjadikan persoalan yang ada di dalam internal kerajaan berdampak sistemik. Terbukti kemelut dinasti pecah, dan beberapa pangeran dari keluarga raja sendiri, terutama kedua saudara Paku Buwana, yaitu Mangkubumi dan Mangkunegara, terlibat dalam pertarungan terbuka. Ketika Paku Buwana II wafat di surakarta pada tahun 1749, ia boleh dikatakan menitipkan kerajaannya kepada Kompeni agar Kompeni mendukung hak anaknya, yang bakal menjadi Buwana III (1749-1788)[19].
Tidak bisa dipungkiri bahwa pudarnya politik raja-raja jawa Islam tak lepas dari politik adu domba yang diterapkan oleh pihak kompeni. Pengaruh itu begitu terasa terhadap munculnya wacana pemberontakan. Kesan yang lebih ekstrem lagi ditimbulkan oleh per-utusan yang datang ke Batavia dan sambil menyampaikan hadiah, atas nama Pangeran Adipati  Anom yang meminta kuda persia kepada pemerintah kompeni[20].

C.     Kesimpulan
Pasca kemelut politik di tingkatan raja-raja tidak serta merta membuat segalanya gagal total di tubuh kerajaan. Terbukti setelah perjanjian Gianti tahun 1755 dan 1757, jelas secara kekuasaan hal itu sangat tidak menguntungkan, namun dari Gianti tersebut sesungguhnya menjadi peristiwa penting dalam dinamika sejarah Kerajaan Mataram. Kondisi tersebut telah merenggut impian untuk membentuk sebuah tatanan kerajaan Jawa yang utuh oleh raja-raja pertama. Seluruh Jawa Barat, seperti juga pesisir utara dan “ujung timur“ Pulau Jawa telah dikuasai Kompeni.
Namun, kegagalan politik raja-raja itu diimbangi  oleh sukses ekonomi daerah-daerah pedesaan. Mulai tahun 1755 Jawa mengalami suatu masa perdamaian yang akan merentang sampai 1825. produksi pertanian bertambah banyak, dan kesejahteraan umum membaik[21]. Bahkan Denys Lombard mengutip Rafles dalam bukunnya History of Java, menjelaskan bahwa “sedikit negeri yang rakyatnya bisa makan sebaik di Jawa. Jarang orang pribumi yang tidak dapat memperoleh satu kati beras yang dibutuhkan per hari. Nasi itu dimakan dengan ikan, sayur-sayuran, garam dan bumbu-bumbu lain...“[22].
Selain itu dominasi Islam tampak pada tingkat sosial mengalami kemajuan pesat diberbagai kesultanan, dan itulah gejala terpenting pada abad ke-16, ke-17, dan ke-18[23]. Inilah yang kemudian oleh penulis sebut sebagai kesuksesan ekonomi pedesaan di tengah-tengah ketegangan dan kegagalan para raja-raja Jawa Islam di kancah dunia politik. Bagaimanapun kesuksesan di bidang ekonomi tatkala memuncaknya kegalauan politik di tingkat elit Raja Mataram adalah potret bahwa pertikaian politik tidak selamanya berdampak kesengsaraan, meski ketimpangan sosial lain tetap akan muncul dalam sebuah polemik, apalagi dalam ranah kekuasaan.


Daftar Pusataka

-          Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia, 2008
-          Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan-Warisan Kerajaan Konsentris. Jakarta: Gramedia, 2008
-          Dr, H.J. De Graaf, Runtuhnya Istana Mataram. Jakarta: Grafitipers, 1987
-          Drs. R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1973
-          Mundzirin Yusuf dkk,  Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka, 2006


[1] M. Romandhon MK: Mahasiswa Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Faklutas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
[2] Dr. H.J. De Graaf, Runtuhnya Istana Mataram, (Jakarta: Grafitipers, 1987), hal 49.
[3] Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Jaringan Asia, (Jakarta: Gramedia, 2008) hal 47
[4] Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris, (Jakarta: Gramedia, 2008) hal 35
[5] Ibid, 35
[6] Ibid, 36
[7] Mundzirin Yusuf dkk,  Sejarah peradaban Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hal 81.
[8] Ibid, hal 82.
[9] Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan-warisan Kerajaan konsentris, (Jakarta: Gramedia, 2008) hal 36.
[10] Ibid, hal 38.
[11] Ibid, hal 42.
[12] Mundzirin Yusuf dkk,  Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hal 85
[13] Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan-warisan Kerajaan Konsentris, (Jakarta: Gramedia, 2008) hal 44.
[14] Ibid, hal 44.
[15] Ibid, hal 45.
[16] Ibid, hal 45.
[17] Dr, H.J. De Graaf, Runtuhnya Istana Mataram, (Jakarta: Grafitipers, hal 1.
[18] Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan-warisan Kerajaan Konsentris, (Jakarta: Gramedia, 2008) hal 45.
[19] Ibid, hal 46.
[20] Dr, H.J. De Graaf, Runtuhnya Istana Mataram, (Jakarta: Grafitipers, 1987), hal 13.
[21] Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Warisan-Warisan Kerajaan Konsentris, (Jakarta: Gramedia, 2008), hal 46.
[22] Ibid, hal 47.
[23] Denys Lombard, Nusa Jawa; Silang Budaya, Jaringan Asia, (Jakarta: Gramedia, 2008), hal 50.

Monolog Mati

Oleh Yang Lain Kali


Pada mulanya aku tak berpikir panjang tentang hidup dan kehidupan ini, terlebih tentang diriku sendiri. Lantas bagaimana aku bisa ada hari ini dan berada diantara mereka? Bagaimana bisa hidup menjadi sebegitu wajarnya? Pertanyaan semacam itu yang membuat aku bertahan sampai sekarang. Pertanyaan yang terus merambah di urat-urau otak kepalaku dan menjadi jarum karat di lubuk hatiku. Berawal dari itulah aku menuliskan kalimat-kalimat ini yang aku yakini bakal dibaca oleh orang lain, entah dari mana asalnya. Jika tidak demikian, untuk apa aku menulis? Tetapi lupakanlah!.
Aku hanya ingin mencatat perjalanan hidupku dalam waktu dua tahun ini. Dua tahun yang sulit untuk  aku pertanggung jawabkan pada keluarga, guru, dan mereka yang menganggapku ada, bahkan buat siapa saja yang tidak menerima keadaanku. Semua itu terlalu sukar aku rangkai menjadi rentetan cerita yang utuh, cerita yang indah seperti catatan-catatan para tokoh dunia. Aku hanya segumpal daging yang ditakdirkan hidup sebegini adanya. Hidup yang penuh dengan pilihan-pilihan yang kurang indah untuk diceritakan pada anak dan cucuku. Pun aku tidak jarang merasa naif untuk mengenang perjalanan hidupku selama dua tahun ini. Tetapi sebuah keyakinan yang aku yakini sekarang, membuat aku benar-benar ada dan hidup sewajarnya, meski aku harus menahan rasa perih di kepala dan nyerih dalam dada.

28 Juli 2009:
sebuah keyakinan yang kau tanam, akan melahirkan sejumput ilalang yang dongaknya menyemai purnama dan keraguan yang membentang diantara kedua sayapmu, akan membawa seluruh jiwa dan ragamu ke lembah-lembah yang penuh dengan darah luka, nanah kelukaan, dan air mata yang melara.
Aku tahu, betapa cinta di hatimu telah menggelorakan gumpalan-gumpalan rindu pada sang kekasih, yang pada setiap letupanya bukan lagi semerbak wangi kembang malam, melainkan sekerat desah ketakutan yang kerap kali membuatmu murung dalam tidur. Bahkan bila saja rembulan di matamu itu, tiba-tiba menjelma gerhana. apakah kau masih akan melihat purnama-purnama lain yang kapan saja akan datang untuk memberi sinaran di hatimu?.

21 Desember 2009:
Tujuh hari yang lalu, aku bersepakat  dengan diriku  untuk melipat selendang kumal yang melingkar di leherku sepanjang waktu ke dalam lemari usai dicuci, bersih dan rapi disetrika. Tentang hari dan tanggalnya aku tidak sempat mengingatnya. Tentunya, malam atau hari ini adalah hari ke-tujuh selendang tidak lagi melingkar dileherku. Bukan sebab aku sudah tidak menghargai waktu atau sengaja melupakan, bahkan tidak ingin mengingatnya. Hanya saja kapan hari dan tanggalnya memang tidak terlalu penting untuk aku katakan pada siapa saja yang suka membaca tulisan kesaksian ini. Aku hanya tidak ingin menambah kekecewaan di hatiku dan di hati orang-orang, entah sahabat, teman, kawan, dan orang yang tanpa sengaja berjabat tangan  dan kemudian saling bertukar nama dengan aku.
Cukup aku saja dan buku catatan harianku dalam memory ingatanku yang tahu. Walau aku juga tidak menjamin dengan merahasiakan waktu kapan selendang itu harus pergi dari kehidupanku dan orang-orang, tidak akan memperparah kekecewaan. Sebab sesuatu yang indah dalam pandangan siapa saja, dengan tiba-tiba harus raib tampa pamit sudah pasti melahirkan rasa kecewa. Jujur, aku sendiri sungguh sangat tidak rela selendang di leherku yang setia mewakili panggilan namaku harus hilang tanpa sebab dan alasan yang pasti. Sesekali aku menyesal, geram sendiri ketika melihat selendang tergeletak di lemari, terlipat rapi di antara tumpukan-tumpukan kain yang kapan saja membungkus tubuhku sesuka hati.

25 Desember 2009:
Sungguh aku terpuruk saat ini, ketika selendang benar-benar aku tinggalkan untuk beberapa waktu entah sampai kapan. Aku membiarkannya istirahat biar tenang dengan kehidupannya sendiri. Sebab aku telah rapuh untuk menyebut namanya sebagai pangilan namaku. Oh, betapa kejam diriku!
Selamat berpisah selendang kebanggaanku, selendang yang telah menjadi almamaterku, identitasku, bahkan menjadi teman karib dalam perjalanan rantau hidupku. Selendang kumuh kumal kata orang-orang, selendang warna kuning keemasan dengan bunga-bunga warna coklat, batik khas Madura warisan nenek tercinta yang Ibu berikan padaku menjelang aku pergi mencari yang pasti ke negeri rantau.
“Aku masIh ingat jelas waktu perrtama kali aku mengenalnya, dia lucu sekali. Aku ingin tertawa bila ingat itu,” pertama aku mengenalnya pada musim hujan saat cuaca malam tak jarang turun hujan, udara terasa dingin. Aku suka keluyuran tangah malam waktu itu, atau memang obsesiku. Kata seorang teman dan guruku, jika aku ingin menulis puisi atau sajak maka tulislah di waktu malam ketika suasana sepi dari hiruk pikuk percakapan orang-orang. Aku sepakat dengan usulan itu, sampai aku tak pernah mau menghabiskan malam di ranjang kamar rumahku.
Eli Eli Lamma Sabaktani (Doa Yesus pada Tuhannya) “Tuhan, kenapa Engkau tinggalkan aku?” sebagaimana rintih selendang sejak pertama aku tingalkan. Terngiang di telinga ia menjerit-jerit meraung-raung menangisi kekalahanku.

27 Desember 2009:
Aku kalah. Kalah pada prasangka dan pada kemungkinan-kemungkinan yang membimbangkan hatiku bahkan mengombang ambingkan hidupku di tengah orang-orang bereputasi baik, berprestasi tinggi dan dapat dikata sudah memiliki nama dan sukses. Meski sebenarnya aku sudah punya nama “Selendang”. Tetapi aku merasa itu tidak adil untuk menjadi identitasku saat ini. Barangkali mereka juga sudah berkata seperti itu, jika tahu akan jalan hidupku yang mudah terobsesi.
Mungkin hanya sebuah kebiasaan dan telah menjadi bawaan sejak masa kanak-kanak. Lata menjadi bagian dalam hidupku, saat aku mengenal hidup dan mati, tepatnya sejak aku berusia empat belas tahun waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas kelas dua, dan sejak itulah aku juga mulai paham tentang perasaan  dan perempuan.

18 Februari 2010:
Semua kembali pada mula asal, sebagaimana dulu, empat tahun lalu. Tentang cinta, cita, dan impian. Cinta yang lahir atas nama perempuan; hati cinta perempuan. Cita dan impian yang kugantung di ranting serta dahannya. Bukan sebab musabab yang niscaya terjadi, sebatas bagian terkecil dalam diri hidupku dan kehidupan. Aku ada menjadi berarti atas dasar cinta dan rindu. Cinta yang dia lahirkan di jantung hatiku dengan rerindu yang kian randu, berkembang, beranak-pinak. Sebagaimana cinta dan kasih yang dititipkan sejak berabad-abad yang lalu.
Cinta yang mengantarkan cita dan impian besar; menjadi penyair, seniman, atau pecundang dan begundal atau sebangsanya. Pun cinta yang membesarkan aku dalam kehidupan ini, sehingga paham dam mengerti tentang banyak hal dari yang hidup dan mati; dari yang ramai dan sunyi; terang dan gelap. Tentang persahabatan, cinta kasih, bahkan hakikat kehidupan yang sejati.
Tiada lain lantaran ada dia bagian tulang rusuk adam, ibunda Hawa yang menempati ruang teduh di ranjang istirah Bapa Adam. Seperti halnya aku, “dia” bulan sabit dari timur; memperkenalkan aku pada sosok manusia selain dari pada kaumku “kaum pria”. Tak lain tak bukan sebab ada cinta yang telah tumbuh menjadi sebatang pohon dengan reranting dan daunan randu di taman kalbuku. Hingga malam atau siang ini, pohon itu semakin besar, bercabang, berakar kuat, batangnya mencakar langit dan menantang matahari bahkan hujan berbadaipun pantang untuk tumbang. Ibarat riwayat setetes-setetes air menancap keras batu, bersama waktu akan berlubang pula; itulah cinta, cita, dan impian yang berkembang biak di hidupku.
Bila harapan berbatas waktu, ada doa terjadi kemakbulan; jika hidup untuk karena cinta, aku sakralkan ritual janur kuning melengkung dengan dirinya sampai potongan-potongan bambu menjadi atap istirah antara jasadku dan jasadnya.

Akhir November 2010:
Lelaki belang berambut panjang. Begitulah kira-kira, sebutan terhadapku, “lelaki belang berambut panjang” Aku suka mengkoleksi nama-nama, membuat nama-nama indah untuk menghibur hatiku sendiri.
Rianda!” aku suka menyebut dan memanggilnya meski sekedar dalam gumam atau sebatas dalam catatan. Nama yang lahir atas hati dan rasa yang dalam. Nama yang kuindahkan demi ridu-rindu yang menderu sepanjang waktu.
Tuhan, aku tahu Kau lebih paham dan mengerti tentang cinta kasih dan rerindu. Lebih lagi tentang diriku dan hati serta seluruh isi jiwaku. Karenanya aku bercinta dan menikmati rindu yang mencandu . Meski rasa perih dan nyeri terus menjalar di tubuhku
Dan kemudian, cinta dan rindu itu harus dengan kejam aku bunuh!
Apa sebenarnya yang terjadi dalam diriku? Aku bertanya atas kebodohan dan ketololan langkah yang mengalir diatas duri dan kerikil tajam.

09 Desember 2010:
Terasa sudah lengkap masalah dan persoalan yang berkecamuk dalam pikiranku. Hampir aku tak mampu memfungsikan otak dan nalar sekedar untuk memecah sedikit darinya demi meringankan jengkal langkah kakiku. Jika ini adalah beban dalam hidup dan kehidupan.
Tadi pagi aku sempat SMS teman-teman yang aku anggap sejalan dalam menentukan hidup. Walau sedikit yang membuat persamaan, yakni kebiasaan berimajinasi dan melakukan sesuatu. SMS-nya beguni; tolong.. ada ular di kepalaku. Tolong, tolong jangan berisik dia sedang terlelap tidur sekarang.
Entah apa maksud dari isi kalimat SMS yang aku kirim itu, yang pasti sepagian itu aku begitu gusar dan kepalaku terasa pening oleh beragam persoalan yang tumpang tindih berebut posisi nyaman di syaraf-syaraf otakku. Bicarapun kebanyakan yang ngaur, untung saja jalanku tidak sempat kesasar sampai akhirnya aku kembali tenang dan sedikit merasa nyaman dan aman berada di warung kopi.

24 Desember 2010:
Hal yang paling menyenangkan hari-hari ini adalah ketika sebangun tidur aku berada di warung kopi. Kecuali ada aktivitas di rumah; misalnya kumpul-kumpul dengan keluarga. Namun tidak jarang aku ke warung kopi bersama keluarga. Entah kebiasaan ini sejak kapan atau sampai kapan? Aku lupa dan tidak tahu. Masih banyak hal yang lebih penting untuk kujadikan bahan berfikir dan merenung. Sebab aku adalah aku sendiri; penguasa bagi diri sendiri atau bahkan aku adalah peluang masa depan yang gemilang.
Bukan warung kopi atau segelas susu kopi atau sacangkir kopi hitam yang aku anggap pemuas dari keinginan sebangu tidur. Terkecuali, suasana yang kompleks. Keadaan dan kondisi yang selalu sesuai dengan hasrat dan kondisi fisik, rasa, dan psikisku. Jadi, tanpa aku harus beradaptasi aku betah disini, sendiri atau bersama siapa saja yang aku anggap sebagai wakil-wakilku menyelesaikan setiap agenda-agendaku.
Boleh saja ini adalah sugesti untuk dirikui sendiri dan mereka. Tampa harus terpikir olehku, mereka anggap ini sebagai persepsi atau asumsi yang konyol.  Benak mereka sedang kepayang dengan dirinya sendiri yang diliputi berbagai masalah, persoalan dan tanggung jawab. Sedang warung kopi adalah jawaban baginya, karena bisa melepas sebagain kecil dari beban pikirannya.
Tidak terasa, matahari sore telah hilang di balik punggungku. Sedikitpun aku tidak menghiraukan kepergiannya, sebab membaca diriku, itu lebih penting. Walaupun aku selalu butuh hangat sinarnya.

25 Desember 2010:
“Segelas air es dan secangkir kopi manis”
Seperti biasa sestiap kali aku pesan ke kasir di warung kopi ini, sampai setiap kasir paham dengan apa yang akan aku pesan sebelum aku menyebutkannya. Di setiap situasi dan kondisi. Ya, kopi manis dan air es. Itu saja yang setia temani aku disini, di warung kopi ini, sesuai rasa. Itulah menu favoritku, di bangku pengganti meja dan kursi di ruang kelas. Segalanya aku dapatkan disini, pengetahuan apapun. Pendidikian yang liar, teman berkarir, pengalaman tentang apa saja. Apalagi mengenai persoalan konflik, taktik, dan strategi ada disini. Mau bicara ekonomi, sejarah, budaya, dan politik seolah menjadi mata pelajaran atau mata kuliah seperti dalam pendidikan formal. Apalagi tentang seni dan sastra, disinilah ruang pelepas penat berimajinasi di kamar pribadi.

27 Desember 2010
            Di warung kopi lagi, tempat segala sesuatu dalam hidupku bergeser. Kira-kira setahun yang lalu aku terbiasa singgah di warung kopi. Setiap hari, setiap sore, malam sampai tengah malam, tiada jenuh, hanya tidak jarang merasa sesal yang sia-sia.
Malam selalu datang sendirian. Sebagaimana bayangan wajahnya menghampiriku setiap malam. Aku gelisah, dan rindu tak henti-hentinya mencipta resah. Nafasku sesak bila kehendak untuk berjumpa memuncak, serasa tiada ketenangan tanpa ada dia di sampingku. Namun bukan bayangannya semata yang mengacaukan isi kepalaku, hanya sebagian dari beragam persoalan dalam hidupku. Bukankah perempuan adalah pendamping setiap lelaki?. Ya, bukan dia perempuan yang menggelisahkan hatiku, tetapi keinginan besar yang tak terlampiaskan; impian, obsesi, profesi dan tanggung jawab.
Barangkali hanya nurani dan pikiran jernih yang mampu menerima kehadiran sosok perempuan dalam hati setiap lelaki yang disibukkan dengan tanggung jawab dalam sebuah Organisasi. Namun tidak bagiku, perempuan ibaratnya embun pagi yang meniti di atas daun-daun yang menyegarkan. Sebagaimana aku selalu menulis puisi tentang perempuan dan keindahannya. Seperti suatu malam lalu, ketika pikiranku kacau dan balau oleh berbagai persoalan yang berkecamuk dalam kepalaku, hanya gelisah rindu yang mampu memadamkan kobaran api yang membakar otakku dengan kata-kata indah yang aku tulis menjadi puisi rindu untuk dia perempuan yang menghinggapi ruang kalbuku. Sebab hanya kata-kata puitis yang mampu menentramkanku;
Sebagaimana metafor aku datang padamu di malam atau siang ini. Kau sedang sakit bukan? Kata-kata telah bercerita padaku sejak sekian waktu lalu; Aku yakin kau bertahan dari keindahan metaphor yang serupa dengan kata-kataku. Jangan takut, aku tak akan terlelap lalu menjelma kata-kata di tidurmu; Jika kau merasa nyeri oleh luka, waktu akan larut dalam sakitmu. Nikmatilah! Ia lebih ngilu dari rahasia dalam kata-kataku atau metaformu yang memanah hati dan jiwaku atau hati kita. Merawat suasuatu ambigue. Rianda, jika hidupmu menyala oleh kata-kata yang menjadi metafor. Congkallah kedua bola mataku. Maka kau akan dapatkan semesta kebahagiaan.
Malam selalu datang sendirian. Sebagaiman puisi yang lahir untuk dia perempuan, “Rianda” aku memanggilnya. Dia adalah perempuan yang setia aku temani setiap kali merasakan keresahan dan kekecewaan di hatinya. Dia pula perempuan yang setia mendengarkan cerita-ceritaku, ketika aku sudah pening memikirkan urusan Organisasi.
Malam selalu datang sendirian. Sebagaimana rasa yang timbul di hatiku dan hatinya. Rasa yang tiba-tiba lahir dan hampir meruntuhkan persahabatanku dengannya. Entah apa namanya, aku menjadi bodoh untuk mengartikan dan menafsirkannya. Orang-orang bilang, itulah rindu, tetapi bagiku begitu tabu.
“Asa dan harapmu tak patah oleh badai, keraguan yang buatmu tepiskan mimpi. Sungguh, angin itu berniat belai gerai rambutmu, janganlah kau takut!” Katanya suatu waktu.
“Bagaimana mampu aku menolongmu, jika uluran tanganku kau lempar ke sungai deras. Reranting yang kujulurkan kau patahkan. Apa yang mesti aku katakan? Teriakanku seperti bisik di telingamu!” Katanya lagi
“Entahlah, aku masih ragu akan kehadiran isyarat dan tanda yang kau utus padaku itu, sebab mimpiku sejak dulu selalu sepi dari cahaya. Aku takut, mata kucing yang tajam di mukanya itu, akan membelah mimpi-mimpi yang mulai aku rampungkan, walau tak serapi bulu-bulu kucing yang halus bak sutra itu”. begitu jawabku.
Hampir aku tidak luput berprasangka dan berceruiga padanya tentang perasaanku dan perasaannya. Suatu waktu yang tak pernah aku harapkan kehadirannya, aku bertemu di tempat biasa aku bercakap dan bertukar cerita dengan dirinya. Saat itu dia bicara lirih padaku: Semalam bulan sabit itu menjelma purnama sempurna, indah betul cahayanya. Meski kini kita kembali membangun benteng yang begitu tinggi, namun kau dan aku telah saling mengetahui dan menyimpan rapat sketsa rindu di hatiku dan hatimu. Kau tahu? Baru sekarang aku menyadari bahwa cinta seperti kopi. Pekat dan pahit, namun tak membuat kita berhintu meminumnya. Ya, seperti kopi yang selalu menjadi perantara pertemuanku dengannya.
Benarlah rindu adalah candu yang harus dinikmati setiap waktu. Dan tiada yang terang ketika asmara menjadi bara dalam hati yang membara. Seperti kilatan cahaya di terik siang yang tak dapat dibedakan. Seperti adanya dalam diriku. Seperti bayang-bayang yang kehilangan bentuk dan rupa. Namun jelas dalam ingatan. Itulah cinta.
“Seperti air mata. Indah tangismu, waktu itu” Mungkin ini adalah pernyataan yang paling jujur padamu serta pertanyaan yang paling tulus pula untukmu. Atau hanyalah kenakalanku saja dalam menggunakan kata-kata indah. Namun itulah rindu yang aku sempay nalar.

16 maret 2011:
Cafe Barbados; The different place to make you so blue
Lagi, aku harus beradaptasi dengan tempat ini. Sebuah warung kopi yang baru aku sambangi untuk melakukan rapat Organisasi Kemahasiswaan. Cafe barbados namanya, sebuah cafee yang tidak asing lagi di kota ini bagi setiap pecandu kopi, orang-orang malam atau kami yang terbiasa kumpul melakukan rapat di warung kopi atau di cafe; cafe dan warung kopi sama saja.
Memang ada yang berbeda dan spesial dari kebiasaan kami sejak awal musim hujan ini. Kami jadi pecandu kopi, penjamu malam, penikmat udara dingin dari rintik hujan yang meresahkan para pemulung. Pemulung dan kami hampir serupa tak sama; sama tak serupa. Pemulung serupa dengan kami yang mencuri-curi waktu tangah malam. Kami tak serupa pemulung yang mencuri-curi waktu di siang bolong. Kami dan pemulung sama-sama tak serupa mancari jawaban hidup dan kehidupan dengan alam dan  keadaan.
Sungguh jauh sudah jalan hidup kami basah sepanjang musim hujan ini.sepanjang persoalan yang tanpa ujung pangkal. Pertikaian yang tanpa masalah untuk diselesaikan. Deras hujan yang turun tanpa waktu tak juga meredam kerasnya batu prasangka dan tak pula mendinginkan kepala yang terbakar perdebatan .

Setelah Dua Tahun Berlalu:
Setelah tiga tahun lamanya aku bertahan dalam lingakaran syetan ini, serasa tiada lagi yang mesti aku tunduk dari keadaan yang kompleks dengan peristiwa dan penuh pelajaran ini. lantas dengan apa aku harus mempertanggung kawabkan semuanya pada mereka yang lebih dulu ada dan mengada disini, di lingkaran syetan ini (entah sejak kapan ini bermula), pada sahabat-sahabat yang senantiasa turut merasakan rasa senang dan resah dalam hidupku dan pada mereka yang terpanggil atau terpaksa untuk ikut dalam perjalanan rotasi proses ini.
Kini semuanya telah berubah. Terlalu jauh dari harapan. Bahkan bunga-bunga mimpi pupus begitus aja tanpa terasa angin atau sinar yang mana yang telah merapuhkannya? Aku bertanya pada diriku sendiri atas keadaan yang memaksaku atas kehendak untk melakukan segala perintah hawa nafsu dan akal bejat di kepalaku. Dalam kesadaran yang tak pernah aku sadari keberadaannya, aku masih saja merasa nikmat dengan ketidak nikmatan yang aku resap setiap waktu, setiap desah nurani dan naluri berhembus menembus cakrawala alam pikiranku. Hanya sebatas tanya yang jawabannya adalah kesombongan dan kecongkakan yang disiram dengan kebohongan-kebohongan bibir dan lidah bicara.
Karena hidup dan kehidupan adalah pilihan dan tidak butuh alasan (sejatinya alasan yang utama). Aku merasa kehilangan sesuatu dari hidup dan kehidupanku sendiri yang sejatinya adalah keadaan yang harus aku jalani. Mungkin seperti halnya mereka yang senantiasa memberi nasehat-nasehat, pujian, pengharapan, atau malah pelecehan yang mengekerdilkan dari setiap masalah dan persoalan yang menimpa. Ya, aku dan mereka sama saja, hanya dibedakan oleh lanskap-lanskap gelap keinginan dan nafsu pemuasan duniawi. Aku yakin bahwa; kelak semuanya akan lebih terang dan akan tambah gelap lagi. Entah kenapa, tiba-tiba perasaan dan prasangka saling tarik menarik untuk menguasai langkah dan alur pikiranku.

Yogyakarta, Januari 2012

About this blog

Poll

Pages

Total Pageviews

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Followers

Popular Posts